RSS

Klaim Budaya Indonesia oleh Malaysia

13 Nov

          Berbicara mengenai budaya, sering kemudian kita dengar bahwa Malaysia terus berusaha untuk mencuri dan melakukan klaim terhadap budaya kita yang eksotis. Kenapa?, itulah yang tadi saya katakan “memperebutkan suatu hal yang bernilai”, sesuatu yang unik dan berharga. Yaitu kebudayaan yang merupakan senjata terkuat dan merupakan jati diri serta identitas sebuah bangsa.

          Konflik mengenai saling klaim kebudayaan tak pernah reda, bukan hanya kebudayaan, pulau dan kekayaan alam lain Indonesia pun berusaha di klaim oleh Malaysia sebagai kepunyaannya. Bagaimana tidak membuat masyarakat geram?, banyak kemudian bermunculan opini publik mengenai permasalahan diatas. Entah itu kritik terhadap pemerintah yang terlalu lalai, pemerintah yang tak tegas, Malaysia yang tak punya jati diri, Malaysia yang selalu licik, serta banyak lagi opini-opini public yang selalu bermunculan setiap kali muncul kasus dan polemic yang terjadi atas nama Indonesia dan Malaysia.

          Masih ingat sengketa Sipadan dan Ligitan?, kasus perang laser yang terjadi di lapangan sepak bola 2010 lalu saat perebutan juara Piala AFF?, kasus Reog Ponorogo yang berusaha di klaim oleh Malaysia, lagu Rasa Sayange?, serta banyak lagi kasus serta sengketa yang muncul dan terjadi antara Indonesia dan Malaysia?. Agaknya konflik tak akan pernah reda mengingat Indonesia dan Malaysia mempunyai sejarah konflik yang panjang dan kadang menimbulkan rasa dendam dan perasaan mengganjal lain ketika salah satu pihak tak bisa merelakan apa yang tidak bisa dimilikinya kembali. Ya, Indonesia pernah mengalami rasa sakit hati yang amat sangat mendalam ketika Sipadan dan Ligitan jatuh ke tangan Malaysia. Begitu pula kasus-kasus lain yang tidak dimenangkan oleh Indonesia, juga kasus lain yang tidak dimenangkan oleh Malaysia. Saling cemburu dan saling menggerutu adalah konsekuensi logis dari kehidupan yang penuh polemik ini.

          Klaim Tarian Tor-tor Oleh Malaysia: Antara Kesalah Pahamandan KelalaianAda juga yang mengatakan bahwa semuanya konflik dan sengeta yang terjadi antara Malaysia dan Indonesia hanya karena kesalah pahaman belaka, mulai dari masalah Sipadan dan Ligitan zama abu-abu dulu, sampai dengan kasus tarian Tor-tor yang dikabarkan diklaim oleh Malaysia yang saat ini sedang panas dan gencar dibicarakan dan dipublikasikan oleh media massa. Ya, kebanyakan memang karena salah paham. Mengatakan bahwa Malaysia tak berbudaya?, siapa bilang?. Justru mereka sangat menghormati budaya yang mereka miliki. Dikatakan oleh Tempo.co bahwa 70 persen ras melayu berasal dari Indonesia (18/06/12). Jadinya, mereka yang merupakan warga yang dulunya berasal dari Indonesia dan menetap di Malaysiadan tetap meneruskan tradisi dan kebudayaan lamanya merupakan sumber dari kesalah pahaman ini. Memang perbuatannya sangat baik, menjaga dan melestarikan kebudyaan yang merupakan identitas yang melekat pada dirinya, tapi mungkin harus melihat situasi dan kondisi.

            Kesalahan terbesar pemerintah ialah ketika tidak mereka telah sadar dengan adanya realitas diatas dan sama sekali tidak mengambil tindakan yang tegas untuk menyelamatkan kelangsungan dari budaya kita. Pemerintah terlalu lalai dalam menjaga budaya kita yang begitu eksotis, pemerintah dianggap tidak serius dalam menyelesaikan sengketa yang berawal dari kesalah pahaman ini. Hal ditunjukkan dengan sangat minimnya tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah kasus-kasus klaim budaya dan kekayaan lainnya. Buktinya, kasus bermunculan bahkan sebelum ndonesia mulai berkedip dan menghelakan napas panjang dari kasus-kasus klaim sebelumnya. Ini merupakan sebuah kebobrokan, kelalaian yang patutnya tak boleh dilakukan oleh seorang penguasa.

            Tak sedikit pula juga yang berkata bahwa dibalik polemik dan konflik yang melanda antara Malaysia dan Indonesia terjadi sebuah permainan besar, permainan politik yang busuk. Tapi kita sebagai warga negara yang baik idealnya hanya bisa bersikap dan berprasangka baik terhadap pemimpin-pemimpin kita yang sejak pagi hari dengan semangatnya terus memikirkan strategi untuk Indonesia yang lebih baik. Mudah-mudahan memang begitu. Terlepas dari itu semua, banyak hal yang melatarbelakangi bagaimana Indonesia dan Malaysia seolah digambarkan dengan minyak dan air yang tak bisa bersatu dan terus bersebrangan, meskipun ada dalam satu wadah atau gelas yang sama.

            Kita harus bijak dan pandai dalam menyikapi segala persoalan yang terjadi di Indonesia, terlebih lagi itu menyangkut hal-hal sensitif yang berhubungan dengan relasi antara kita dan pihak lain. Bukannya menambah dan menjaga hubungan baik dengan pihak lain, malah akan membawa bencana dan perseteruan yang berkepanjangan antara kedua belah pihak. Itulah saya katakan kemudian bagaimana kita harus bijak dan bersikap cerdas.

 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2012 in catatan pribadi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: